Rabu, 19 November 2008

MENGAPA ORANG SELALU MINTA SELAMAT?


 


 

Account    illumination


 

Orang yang minta itu sebenarnya orang yang tidak punya. Perlu pakai, namun tidak punya, maka orang itu minta.

Di waktu masih anak-anak yang diminta barang mainan. Sebab dia girang, dia senang dengan barang mainan itu. Jadi yang senang baginya, dia minta. Yang tidak menyenangkan dia tidak minta.

Di waktu dewasa yang diminta orang berbeda lagi. Macam permintaannya bahkan banyak. Malah minta yang satu belum mendapat, minta yang lain. Yang lain itu pun belum tercapai, sudah minta pula yang lain lagi. Begitu seterusnya: minta, minta, dan minta.

Di antara permintaan-permintaan itu yang paling laris ialah uang.

Orang di sana dan di sini minta uang, minta kekayaan, minta selalu ditambah harta bendanya.

Minta rejeki, minta untung besar, minta kekayaan yang berlimpah-limpah.

Di samping uang ada lagi yang juga menduduki tempat yang tertinggi, yaitu: S E L AM A T

Bukan main orang menggandrungi minta selamat.

Dari orang di timur, di barat, di selatan, dan di utara semua minta selamat dan selamat.

Orang yang sudah di istana masih minta selamat. Apalagi orang yang tinggal di gubuk di tengah sawah. Malah jika dibanding, yang tinggal di sawah agak kurang permintaan selamatnya daripada yang sudah dikawal di gedung yang gemilang seperti istana itu.

Yang miskin minta selamat, yang kaya raya juga masih minta selamat.

Yang sakit-sakitan minta selamat, yang segar bugar juga minta selamat.

Pendek kata, orang-orang itu amat sangat membutuhkan selamat.

Marilah kini masing-masing menanyakankepada diri sendiri, mengapa orang selalu minta selamat?

Jangan katakan akan menjalani operasi (pembedahan) badannya, sedangkan akan pergi ke luar kota saja lebih dahulu minta selamat.

Mau cabut gigi minta selamat. Mau merekrut pegawai minta selamat. Mau berdagang minta selamat. Mau pindah rumah minta selamat. Mau berhubungan bisnis dengan siapa saja minta selamat.

Apalagi mau menikah, mesti minta selamat. Mau mendirikan bangunan, sampai mau memindahkan kandang sapi juga minta selamat.

Dalam salah satu ujian mengambil SIM malah ditanya suatu pertanyaan begini:

"Apakah pesan istri atau suami anda apabila anda hendak pergi ke luar kota dengan kendaraan anda?"

(Kalau belum punya istri atau suami diganti ibu atau bapak anda)

Karuan pertanyaan itu kalau berbunyi:

"Dari Malang ke Surabaya jalan mana yang paling selamat?"

Nah, itu menunjukkan betapa keselamatan itu dipentingkan orang.

Pria, wanita, tua, muda, yang tinggi, yang pendek, yang gemuk, yang kurus,- semua minta selamat, selamat, dan selamat.

Memang tidak salah, selamat itu dibutuhkan oleh semua orang. Cuma yang satu ini ada yang lebih kebacut daripada yang lain.

Andaikata ada "Dewa" yang menjual kartu "Selamat", tiap orang yang membawanya ke mana-mana mendapat selamat, pasti akan lebih laris daripada menjual undian berhadiah atau apa saja.

Setelah kita mengenangkan semuanya itu, marilah kita selidiki agak mendalam: Apakah sebenarnya selamat itu?

Istilah "selamat" ini berasal dari kata "salaam" atau "shalom" (Ibrani). Salam berarti batinnya tenang (inner peace).

Jadi orang yang selamat itu adalah orang yang batinnya tenang.

Orang yang batinnya gelisah, tentu tidak merasakan selamat.

Orang biar berapa saja kekayaannya kalau batinnya gelisah, dia tidak selamat. Tidak merasa mempunyai keselamatan, walaupun dia bebas dari kecelakaan.

Rockefeller- raja minyak, yang harta bendanya berlimpah-limpah, masih perlu membuat villa di Miami, untuk dia seorang diri menyepi dengan kawalan yang ketat (sebab dia tidak mau dikunjungi siapapun), itu menunjukkan dalam dirinya belum mempunyai ketenangan yang wajar. Batinnya masih gelisah. Maka, dengan sendirinya, dia belum mempunyai selamat yang sebenarnya.

Dan banyak hartawan-hartawan yang lain, karena mereka tidak mempunyai ketenangan batin yang sesungguhnya, maka hatinya selalu mengandung kekhawatiran dan ketakutan.

Jadi selamat itu adalah tenang. Batin orang yang tenang, itulah keselamatan.

Kalau orang menyapa:"Selamat pagi!" Maksudnya yang benar ialah "milikilah ketenangan batin di pagi hari itu."

Demikian di waktu orang mengucapkan "selamat jalan", supaya di perjalanan itu mempunyai hati yang tenang.

Coba bagaimana kalau dalam perjalanan dengan bis atau kereta api membawa barang (koper pakaian dll) misalnya, dalam keadaan batin gelisah, apakah kopernyaitu tidak ketinggalan di bis atau gerbong waktu dia turun di terminal atau stasiun?

Kekecewaan orang yang justru batinnya gelisah. Oleh karena itu, sejak purbakala orang menjunjung ketenangan batin, yang dengan kata lain disebutnya: s e l a m a t.

Itulah sebabnya yang membuat orang selalu minta selamat.


 

Disadur dengan perubahan dari majalah TJAHAJA TRI-DHARMA no.7 tahun ke I (1970)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Sy ingin seperti Superman...mmenyelamatkan org bkn sebaliknya...bisakah...ya usahalah dr sekarang selagi hidup...menjadi superman hy dgn satu cara yaitu..perbyk mengkhayal

 

ShoutMix chat widget